Talang Maua, Kabupaten Lima Puluh Kota. Di tengah bencana alam yang melanda Sumatera Barat pada November 2025, sebuah ikhtiar budaya justru menemukan momentumnya. Produksi Film Dokumenter “Ahmad Yuslim – Jejak dan Estafet Maestro Sampelong Islamidar” berhasil diselesaikan dengan hasil yang dinilai sangat baik dan memuaskan, bukan hanya sebagai karya sinema, tetapi sebagai peristiwa kebudayaan yang melahirkan Tugu Sampelong sebuah benteng peradaban dan penanda sejarah seni Minangkabau. Produksi film ini menghadapi berbagai rintangan berat. Cuaca ekstrem, kondisi lapangan yang sulit, serta keterbatasan teknis akibat bencana tidak menyurutkan semangat tim. Di bawah kepemimpinan Ayurizal, S.Sn., M.Sn. sebagai sutradara, penulis naskah, sekaligus pemimpin manajemen tim besar, seluruh proses produksi tetap berjalan dengan disiplin, keteguhan, dan visi yang jelas. Kepemimpinan tersebut menjadi poros utama yang menjaga arah artistik, spiritual, dan etis film ini agar tetap setia pada nilai-nilai Minangkabau.

foto by. MAC
Film dokumenter ini bukan sekadar merekam musik tradisi Sampelong. Ia berhasil membangun ruang hidup bagi kebudayaan, melalui keterlibatan langsung seniman, masyarakat nagari, akademisi, dan generasi muda. Bersama Luthfi Razzaq Alvechena dan seluruh seniman Sampelong yang masih ada termasuk Ahmad Yuslim, Yasrizal, dan Alwizar film ini melahirkan satu warisan nyata: Tugu Sampelong, sebagai simbol bahwa Sampelong bukan sekadar bunyi, melainkan identitas dan martabat budaya Minangkabau. Keberhasilan produksi ini dapat direalisasikan atas kerja sama dan kolaborasi dari Batuang Arte n Design, bersama sejumlah dosen dan mahasiswa Musik Film ISI Padangpanjang serta MAC (Minangkabau Art Culture) sebagai motor utama gerakan budaya ini. MAC Film menjadi ruang konsolidasi gagasan, tenaga, dan keberanian untuk menjadikan film sebagai alat penyelamatan warisan. Di dalamnya, kerja kolektif para seniman dan akademisi tampil sangat intens.
Kontribusi luar biasa datang dari Rama Anggara, M.Sn., Haviz Emriadi, S.Sn., M.Sn., Vindo Alhamda Putra, S.Sn., M.Sn., dan Deny Alpan, S.Sn., yang tanpa henti berjibaku di lapangan, menjaga kualitas artistik dan teknis produksi. Dukungan kreatif dan manajerial juga diperkuat oleh After Project melalui peran penting Asril Fahmi, S.Sn., M.Sn., yang aktif dan konsisten dalam pengawalan pascaproduksi serta strategi keberlanjutan film. Keterlibatan IBBT Institute dan ALIR Pictures turut memberi energi besar, baik dalam penguatan jaringan, teknis produksi, maupun legitimasi artistik. Dukungan ini menjadikan film Sampelong berdiri kokoh sebagai karya kolektif lintas lembaga dan generasi. Ucapan terima kasih dan penghormatan yang mendalam juga disampaikan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Sumatera Barat, yang telah mensuport penuh kegiatan ini, baik secara moral maupun institusional. Dukungan tersebut menjadi bukti nyata bahwa negara hadir dalam menjaga warisan budaya daerah. Pada akhirnya, Film Dokumenter Sampelong membuktikan bahwa di tengah krisis dan bencana, kebudayaan tidak runtuh ia justru menemukan bentuk barunya. Film ini tidak hanya layak dipandang sebagai dokumenter, tetapi sebagai tugu peradaban, sebuah kesaksian bahwa Minangkabau masih menjaga suaranya, napasnya, dan jiwanya. “Ini bukan hanya film. Ini adalah pernyataan bahwa Sampelong hidup, dan akan terus hidup.”
ditulis oleh Ayurizal, S.Sn., M.Sn.
